Solusi Agar Anak Tidak Terlalu Sering Main HP

Zaman sekarang adalah zaman yang lebih susah dibanding zaman-zaman sebelumnya. Terutama bagi orang tua, utamanya dalam konteks mendidik anak. Arus globalisasi melanda kemana-mana, dari kota sampai pelosok desa-desa sunyi. Dari rumah-rumah mewah bertingkat hingga gubuk-gubuk kecil.

Beberapa tahun lalu para orang tua hanya dipusingkan dengan masalah terlalu seringnya anak menonton tv. Apalagi kalau hari Minggu, anak-anak biasanya tidak beranjak dari depan tv sejak bangun tidur sampai jam makan siang. atau kalau ditarik mundur lagi, paling-paling anak pulang menjelang maghrib. Seharian mengejar layang-layang, bermain kelereng atau mencari ikan di sungai.

Tapi sekarang? Hampir semua anak usia SMP sudah pegang HP. Wajar saja, karena kalau tidak punya HP pasti dianggap kampungan, kurang gaul dan yang pasti tidak bisa aktif di media sosial. Selain itu harga HP memang sangat bervariasi, mulai yang ratusan ribu sampai puluhan juta tersedia. Soal kualitas kalau cuma buat urusan media sosial yah sepertinya semua sudah memenuhi syarat.

Selain itu demi alasan penguasaan teknologi informasi maka banyak sekolah yang seakan-akan menyaratkan agar semua siswanya mempunyai HP. Mulai jenjang lanjutan pertama. Biasanya HP digunakan untuk mencari bahan atau materi tugas. Atau untuk memudahkan penerjemahan dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Ada pula sekolah yang memperbolehkan siswanya membawa HP dengan alasan agar bisa berkomunikasi dengan orang tuanya, urusan jemput menjemput misalnya.

Dengan berbagai fenomena di atas maka wajarlah apabila kehidupan anak-anak sekarang tidak bisa dipisahkan dengan HP. Bukan hanya anak Anda, tapi anak saya juga. Anak tetangga Anda, anak tetangga saya dan anak tetangga dari tetangga-tetangga kita ( bingung ya?? Sekedar untuk menggambarkan banyaknya anak yang kecanduan HP, he he). Ibarat sebilah pisau, selain banyak manfaat tentu saja efek negatif dari penggunaan HP yang over tidak kalah banyaknya. Tapi kali ini kita tidak akan berdiskusi tentang itu. Kita akan mencoba memberikan solusi bagaimana cara mengatasi apabila anak kita sudah terlanjur kecanduan HP.


1. Aturan Ketat Sejak Dini
Ini bukan klise. Ini riil dan bisa diterapkan. Apabila usia anak Anda masih dibawah 3 tahun misalnya, tentukan dulu kapan si kecil diperbolehkan main HP. Anggap saja dia akan mendapatkan ijin main HP tepat saat ulang tahunnya yang ketiga. Nah pada saat itulah jangan bosan-bosannya untuk sekaligus menyertakan aturan yang melekat. Apa saja itu? Misalnya Adek main HP nya satu jam saja ya. Nanti kalau jarum panjang tepat di angka 12 Adek harus berhenti lho. Atau Adek boleh main HP pas hari Selasa, Jumat dan Minggu.

Kalau hal ini diterapkan sejak dini, percayalah Anda akan menuai hasilnya. Kenapa? Ya karena makin kecil anak makin patuh dia. Karena pembiasaan yang dilakukan sejak kecil akan lebih mudah menghasilkan karakter yang diharapkan. Kedua orang tua harus berperan aktif menjalankan "proyek" ini, namun ibulah pemain utamanya. Ibu yang lebih dekat dengan anak ketika anak masih berusia dini. Apalagi kalau ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, pasti lebih mudah lagi ( menjadi ibu rumah tangga lebih berat dibanding ibu karier loh, he he). Tapi kalau memang keadaan tidak memungkinkan peran ini bisa digantikan oleh sang pengasuh kok.

2. Jangan Abaikan Anak
Banyak sekali ditemukan kondisi di dalam sebuah rumah dimana ibunya sibuk sendiri dan anaknya juga bermain sendirian. Pagi misalnya. Ibu sibuk mencuci dibelakang dan si anak melongo saja di depan tv sendirian. Atau ibunya tidak selesai-selesai masak di dapur dan si anak konsentrasi main HP di kamarnya. Ini pemandangan lumrah dan sudah terjadi sejak dahulu kala. Tapi masih saja terjadi hingga sekarang. Bagaimana ya? Kalau Persatuan Para Ibu-Ibu masih menggunakan alasan: cucian menumpuk, belum menyapu dan mengepel, setrikaan menggunung dan sejenis itu ya tidak bakalan ketemu solusinya. Diperlukan sebuah komitmen dan tekad kuat agar bisa sering- sering menemani si kecil. Yang jelas jangan malah mencuci baju saat putra-putri Anda berteriak: " Maah sini dong. Ayo main bareng Adek". Pandai-pandailah mengatur waktu yang smart agar kerjaan beres tapi si kecil juga selalu dapat teman. Saat dia tidur, atau malam hari, atau saat dia sedang bermain dengan temannya misalnya. Dengan seringnya ditemani "manusia" nyata maka kemungkinan dia bermain dengan HP akan jauh berkurang. Masuk akal ya?

Ini dulu artikel saya saat ini. Yang saya tulis di atas hanyalah sebagian kecil dari solusi yang bisa saya tawarkan. Tentu saja masih ada banyak tips atau jalan keluar lain yang bisa dipakai. Mungkin di lain waktu bisa saya sambung lagi.Mudah-mudahan bisa memberi manfaat. Saya senang kalau Anda bersedia menuliskan komentar.

Anak Suka Bicara Kotor dan Tidak Pantas


 ANAK SUKA BICARA KOTOR merupakan salah satu masalah pada anak yang cukup membuat orang tua prihatin. Apalagi kalau anak-anak ini masih TK atau SD. Bukan berarti kalau anak lebih besar tidak apa-apa berkata tidak pantas. Tapi kalau masih sangat belia sudah begitu, bagaimana bila sudah besar nanti? Kali ini saya akan mecoba mengajak anda mendiskusikan hal itu. Berkali-kali saya umumkan bahwa saya bukan pakar ilmu anak. Saya cuma ingin membagi sedikit pengalaman yang saya miliki, juga pengalaman-pengalaman dari orang-orang yang saya kenal dan beberapa teori yang saya baca. Terima kasih anda sudah bersedia berkunjung ke muchfauzi.com. Eh kok malah jadi resmi banget nih..Santai aja ya..

Penyebab


Penyebab utama jelas dari PERGAULAN (pasti anda sudah tau ini, he..he). Karakter khas yang melekat pada anak kecil adalah dia akan meniru apa saja yang ia dengar atau lihat. Bahkan menurut ilmu Linguistik ( apa lagi ini?) atau ilmu bahasa sumber utama manusia bisa berkata-kata adalah dari meniru. Telinga bekerja lebih dahulu daripada mulut atau lidah. Karena itu dalam teori pembelajaran sebuah bahasa (yang bukan bahasa ibu) mendengar/menyimak pasti diajarkan di bagian paling awal. Misalnya dalam mengajarkan bahasa inggris bagi orang Indonesia maka "Listening" dikenalkan lebih dulu di awal-awal pertemuan. Karena itulah makin kita membiarkan anak bergaul dengan banyak orang tak heran perbendaharaan katanya juga makin banyak. Kalau orang-orang di sekitarnya sering berkata kasar ya itulah yang akan ditirunya, demikian juga sebaliknya.

Penyebab kedua adalah dari orang tua dan anggota keluarga lainnya. Kalau dihitung lamanya waktu anak di rumah dengan di luar tetap lebih banyak di rumah. Bahkan sebelum dia bisa bergaul dengan teman-temannya di luar lingkungan keluarganyalah yang ia kenal pertama kali. Ibu terutama ( ya kena deh sang ibu..). Misalnya ibu hobi membentak 3X sehari sesudah makan, maka perhatikan si anak saat bermain dengan teman-temannya. Pasti dia juga suka membentak temannya, apalagi kalau level temannya di bawahnya baik dari segi umur maupun keberanian. Lha ini tambah berbahaya jika anak sulung sudah “sukses” meniru berkata kasar maka adik-adiknya juga akan lancar saja meneruskan kebiasaan ini.




Solusi

Haduh, gimana solusinya ya...Saya akan mencoba memberikan masukan ya..Gini:Pertama usahakan jangan pernah berkata kasar di depan anak. Kalau bisa ya jangan pernah berkata kasar pada siapapun, he..he..Kasar, kotor, jorok, tidak pantas dan sejenisnya maksudnya. Lha kalau anak sudah terlanjur punya kebiasaan begitu, bagaimana? Kalau dia seorang kakak jangan sampai menular ke adik-adiknya. Teknisnya? Simak di bawah ini:

> Langsung "Tampar" Mulutnya
Hah ?? Apa?? Iya beneran. Langsung aja tampar mulutnya saat anak berkata kasar, kotor atau tidak pantas. Tapi bukan arti ditampar sebenarnya lho. Dimanapun, meski di tempat umum, tidak perlu takut jadi perhatian orang di sekeliling anda.
Saya sudah pernah mempraktekkan dan berhasil kira-kira 97% (perkiraan saya saja). Saya dulu dapat tips ini dari seorang yang pembawaannya lemah lembut. Kalau mau dijabarkan logikanya kira-kira begini: Tamparan mendadak, pertama kali dan di luar dugaan akan tertancap dengan kuat dan dalam di memori anak. Semacam shock terapi. Anak akan kaget, malu dan sangat mungkin menangis. Wajar saja, orang tua yang selama ini sangat menyayanginya, menjewer saja tidak pernah kok tiba-tiba menampar mulut. Jadi sangat masuk akal hal ini akan selalu dikenangnya seumur hidup sehingga tak akan berani mengulanginya lagi.

Yang perlu anda perhatikan adalah saya tidak menyarankan menampar dengan keras dan emosional. Taruhlah anak anda sudah beberapa hari ini ngomong begituan, maka hari ini anda susun rencana, "kalau kapan-kapan dia ngomong gitu lagi aku akan menamparnya". Buat planning yang matang dan kendalikan diri anda. Berpura-pura marah saja. Menamparnya juga jangan sampai melukai. Yang penting mendadak dan seketika.

Beri Penjelasan
Ini bisa dilakukan baik sesudah anda "menampar" atau bila anda tidak tega menamparnya. Pilih waktu saat situasi psikologis anda dan anak paling dekat. Jelaskan secara halus dan panjang lebar bahwa cara berkata si anak itu tidak pantas, jelek, berdosa dan memalukan. Yakinkan bahwa dia adalah anak yang baik. Katakan bahwat eman-temannya yang suka berkata begitu mungkin belum mengerti atau sekedar tiru-tiru. Kalau perlu minta dia untuk menasehati teman-temannya agar tidak mengulanginya lagi.

Beri Sangsi
Bagaimana kalau setelah dua cara di atas dilakukan tapi anak masih mengulangi? Jangan ragu untuk memberikan sangsi. Bisa berupa melarang main di luar selama seminggu, mengurangi uang jajan, menata tempat tidurnya sendiri, mengepel lantai dan pekerjaan-pekerjaan fisik lain yang ringan yang bisa menciptakan kebiasaan yang baik. Atau minta dia untuk menghafal daftar perkalian, surat-surat atau doa-doa harian. Dengan contoh-contoh sangsi di atas anak bisa kapok dan mendapat manfaat dari hukuman yang diterimanya.

Kira-kira begitulah ceritanya. Silahkan tinggalkan komentar agar artikel ini menjadi lebih baik. Wassalam


Penyebab Anak Malas Belajar


ANAK MALAS BELAJAR adalah fenomena lumrah yang bisa terjadi pada anak siapapun. Anak saya, anak anda, atau anak mereka (he..he). Yang dimaksud dengan malas belajar di sini adalah malas belajar di rumah dan malas belajar di sekolah. Baik itu anak yang duduk di bangku SD, SMP , SMA atau yang sederajat. Terlalu luas apa tidak nanti pembahasannya ya? A lah embuh nanti gampanglah. Kalau kira-kira melebarnya terlalu kemana-mana ya kita ciutkan lagi. Mulai !

Penyebab 


Agak susah menemukan penyebab awal dari penyakit malas belajar ini. Kalau dirunut kebelakang penyebabnya karena pola asuh sejak anak masih sangat kecil (belum sekolah). Karena tidak dibiasakan berfikir (misalnya diajari dialog bertanya dan menjawab), dibiasakan membaca saat sudah bisa membaca atau dilatih mengamati sesuatu maka tanpa disadari anak sudah bersekolah tanpa karakter senang belajar. Apalagi kalau dia adalah seorang anak yang punya mas atau mbak yang juga malas belajar. Jadi peran orang tualah yang paling awal menentukan di sini. Lha kalau orang tuanya juga bukan penghobi belajar, wah tambah ruwet urusannya. Penyebab lain adalah penerapan konsep belajar yang salah. Anggap saja misalnya sebenarnya si anak senang dan patuh diajak belajar. Tapi orang tua terlalu memaksa, sering membentak-bentak saat mendampingi belajar maka bisa dipastikan anak akan sedih saat akan mulai belajar. Belajar jadi menakutkan. Faktor ini juga bisa disebabkan oleh guru di sekolahnya. Maka tidak heran kalau setiap anak pasti tidak menyukai guru galak. Sekarang tentang metode belajarnya. Coba anda bayangkan acara belajar seperti ini: hafalan, menjawab 20 pertanyaan atau merangkum sebuah buku. Bandingkan dengan ini: belajar di tempat terbuka, ada permainannya, bisa tertawa lepas dan berkelompok. Betul ! Yang kedua tetap lebih disukai sebagian besar anak, meskipun ada beberapa anak yang “tahan” dengan model pertama. Media, ruang dan waktu yang asal-asalan atau jadul merupakan penghambat minat belajar anak yang sudah diakui oleh pakar teori pembelajaran manapun. Berikutnya adalah materi atau bahan yang  harus dipelajari. Kalau kita mau memperhatikan perkembangan kurikulum di Indonesia kita pasti bisa menemukan ada beberapa materi yang dulu hanya diajarkan di ajarkan di kelas 4 sekarang sudah diajarkan di kelas 2. Contohnya apa ya? Aduh lupa saya, tapi mungkin penjumlahan dan pengurangan bersusun bisa dijadikan sampel awal ( nanti kalau sudah ketemu contoh yang lebih fixed, akan saya usahakan update artikel ini, he..he..). Saya tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Kenapa yang dulu diajarkan baru di SMP sekarang sudah mulai diajarkan di SD. Mungkin teori perkembangan otak peserta didik sudah berubah, yang dulu salah, yang benar ya yang sekarang ini. Atau mungkin anak-anaknya lebih pintar-pintar anak jaman . Karena gizi yang lebih baik, imunisasi macam-macam atau apalah. Faktor ini juga erat kaitannya dengan “keberanian” para guru TK yang mengajarkan membaca, menulis dan berhitung. Padahal menurut aturan calistung tidak boleh diajarkan di TK (hayoo ibu-ibu.. anda juga mengajarkan calistung saat anak anda baru berusia 4 atau 5 tahun kan?). Alasannya klise: mengikuti perkembangan karena anak-anak lain juga diajari calistung sejak dini. Iya kalau anak anda kuat atau anda cerdik memanfaatkan momen-momen yang pas. Kalau tidak? Baru SD kelas 3 saja anak akan jenuh. Meski tidak diungkapkan dia pasti merasa “ sejak lahir kok selalu disuruh mikir”. 

Sudah cukup banyak faktor penyebabnya ya? Sekarang lanjut ke..




Jalan Keluar 

Sekali lagi saya menyatakan bahwa saya bukan ahli anak. Saya sekedar menulis untuk berbagi ( tentu saja saya tidak ngawur. Ada banyak literatur dan pengalaman di balik tulisan ini. Iya benerr, masak nggak percaya sih).

Jalan keluarnya lebih sulit lagi karena harus disesuaikan dengan banyak hal. Tapi bukan berarti tak ada jalan keluar loh. Silahkan teruskan membacanya ya, lalu ambil yang mendekati masalah pada anak anda.

… Usahakan sejak kecil anak sudah akrab dengan buku.
   
Belanjakan uang hak anak anda pada buku. Jangan melulu makanan, pakaian dan mainan. Belilah buku yang bergambar, tentang apa saja yang penting gambarnya mendominasi. Bisa kamus bergambar, daftar jenis-jenis hewan, tumbuhan, alat transportasi, alam semesta dan syukur-syukur dongeng. Gambar adalah syarat mutlak karena tanpa gambar jangan harap anak anda tertarik ! Dongeng bergambar punya nilai tambah tersendiri karena masa pakainya lebih lama. Dengan bertambahnya umur anak anda, nanti buku itu bisa anda jadikan bahan untuk mendongeng. Sering mendengar dongeng terbukti meningkatkan kemampuan verbal dan retorika anak. Belum lagi nilai moral dari setiap dongeng yang akan membantu membuatkan pondasi bagi pembangunan karakter mulia. Terus apa hubungannya sama mengatasi malas belajar? Begini: Tidak usah secara sengaja anda memberikan buku itu pada anak anda (ini ceritanya adegan membeli buku pertama kali yang akan “dipancingkan” pada anak usia 2 tahunan ke atas). Biarkan saja buku itu tergeletak di lantai, jangan lupa bungkusnya sudah dibuka biar nanti anak gampang melihat konten halamannya. Apa yang terjadi selanjutnya? Tidak lama anak akan mendekati buku itu, memegang, bahkan mungkin merobeknya. Berati “pancingan” anda sukses. Anda bisa mendekatinya, menunjukkan anda juga tertarik tapi AwaSS jangan terlalu intervensi dulu. Tugas utama anda mengelem, melakban dan memperbaiki buku itu supaya utuh lagi. Tak perlu ganti buku baru dengan judul sama. Anak lebih senang dengan buku lamanya. Dua, tiga atau empat hari anak akan mulai bertanya tentang gambar-gambar di situ. Tugas anda menjawab. Enam bulan sampai setahun ke depan anak akan mulai mencoret-coret buku. Biarkan saja. Tugas anda menyediakan buku baru secara berkala.

… Jangan terlalu memaksa
   
Ini bagi anak yang sudah terlanjur punya kebiasaan malas belajar,kisaran usia 7 ke atas dengan konteks belajar di rumah. Jika selama ini anda (biasanya seorang ibu) tak henti-hentinya mengingatkan anak untuk belajar dan sudah berusaha selalu membantunya tapi reaksi anak gitu-gitu aja, maka yang perlu anda lakukan adalah merubah kebiasaan anda itu. Mohon anda agak santai sedikit dan tak perlu baper melihat respon anak. Kalau perlu beri jeda seminggu tanpa menyuruhnya belajar (asal bukan sedang musim penilaian lho ya). Saat memulai menyuruh belajar lagi, anda harus  tampil beda dibanding sebelumnya. Kali ini lebih lembut, lebih santai dan tidak terkesan (maaf) terlalu cerewet. Anda juga harus jeli melihat ekpresi anak selama belajar. Kalau sudah kelihatan tidak bersemangat, mengantuk atau tidak fokus ya sudah ijinkan saja kalau dia ingin mengakhiri. Kalau PRnya belum selesai? Anda tahulah solusinya..he3x. Sebenarnya kalau anak sudah pengen udahan mau dipaksa seperti apapun juga percuma. Tidak akan ada yang nyantol di otaknya. Dengan cara ini diharapkan anak tidak merasa tertekan dan sedih ketika disuruh belajar… “tapi sebentar aja belajarnya ya Ma”. “Iya Dek enggak apa-apa, yang penting belajar”. Anda tak perlu kuatir dengan permintaannya itu dan jangan memperburuk keadaan dengan “berdebat” sebelum anak mulai belajar. Nanti kalau dia sudah terbawa suasana /otaknya sudah muter durasi belajarnya bisa memperpanjang dengan sendirinya.

Aduh udah panjang nih artikelnya. Cukup sekian dulu ya. O iya saat membantu anak belajar di rumah orang tua memang harus kreatif menerapkan beberapa model pembelajaran. Jangan monoton model itu-itu aja. Anak sekarang tidak bisa diatasi dengan cara model kuno. Kalau anda merasa tidak mampu tak ada salahnya minta bantuan guru les privat. Satu lagi, anak sulung sangat menentukan. Anak akan gampang di arahkan untuk semangat belajar karena sudah terbiasa melihat kakaknya.

Terima kasih atas kunjungannya. Komentar tak dilarang kok asal membangun. Malah diharapkan.
                                                        

Anak Suka Keluyuran Malam


Anak yang suka keluyuran adalah tanda tidak nyaman berada di rumah. Anak tidak nyaman di rumah tentu ada faktor yang berasal dari rumah yang membuatnya demikian. Faktor ini bisa berasal dari orang tua dan saudara. Kira-kira begini penjelasannya ( Duh kayak Profesor ahli anak aja nih...)


a. Penyebab dari orang tua


--  Orang tua terlalu sibukBaik ayah maupun ibu jarang di rumah karena sibuk bekerja di luar. Berangkat pagi-pagi sekali dan pulang malam. Meskipun mungkin ada seorang pembantu tetap tidak bisa mengganti peran orang tua. Anak akan merasa lebih bebas untuk bermain di luar karena tidak ada orang tua. Alasan lain adalah karena dia ingin bersosialisasi dengan teman-temannya.


--.Orang tua tidak asik diajak mengobrol
Selepas maghrib dimana seharusnya seluruh anggota keluarga bercengkerama orang tua malah asik dengan acara tv favoritnya. Anak disuruh belajar. Belajar sebentar lalu anak mengatakan sudah selesai. Apa yang dilakukan anak selanjutnya? Mau menonton tv selera tidak sama dengan orang tuanya. Buka-buka HP lalu ada ajakan dari teman lain untuk berkumpul di suatu tempat.

b. Penyebab dari saudara

Maksudnya adalah saudara si anak sendiri. Dalam konteks ini justru malah sering terjadi antar saudara yang usianya tidak terpaut jauh atau istilahnya sepantaran. Kenapa bisa begitu? Karena fakta membuktikan jarang sekali saudara sepantaran yang bisa akrab. Rupanya anak-anak ini merasa saling rikuh dan kikuk untuk berbagi atau bercerita terbuka dengan saudaranya sendiri. Bagi mereka jauh lebih nyaman kalau cerita dengan temannya. Betul kan..?
Apalagi kalau diantara saudara ini memang sudah ada bibit-bibit tidak akur, misalnya karena iri atau merasa perlakuan orang tua tidak adil pada anak-anaknya.

Nah kalau faktor-faktor itu terpenuhi kemungkinan besar anak akan hobi ngelayap. Bahkan tidak cuma malam hari saja. Sepulang sekolah langsung kabur, minggu pagi juga lebih memilih kumpul dengan temannya.
Sebenarnya masih ada satu hal lagi yang sangat memengaruhi, yaitu saking "dahsyatnya" pengaruh pergaulan. Si anak sudah merasakan "enaknya" berkumpul dengan teman-temannya di luar. Atau anak takut kalau tidak ikut ngumpul sesuai jadwal kelompoknya karena akan dicap sebagai "bukan cowok", diancam / mendapat sangsi, atau ketakutan akan dikeluarkan dari kelompoknya. Kalau penyebabnya yang terakhir ini, sebaik apapun sikap orang tua dan senyaman apapun suasana rumah tidak akan banyak memberi pengaruh.


Lalu Bagaimana Solusinya?

Anak mulai berani keluyuran di malam hari biasanya kalau sudah kelas 2 SMP sampai usia kuliah. Masa-masa tersebut memang sangat menentukan dalam keberhasilan meraih masa depan yang baik. Itulah masa-masa transisi dari anak-anak ke remaja dan dewasa. Jadi kalau anak anda ada yang hobinya keluyuran anda tenang aja. Temannya buanyak kok he..he..Tapi bukan berarti enggak harus diatasi kan? Saya sih sama sekali bukan ahli, sekedar berbagi pengalaman pribadi dan pengalaman teman-teman. Gini: kalau anak anda masih usia SD lakukan tindakan preventif/pencegahan. Buatlah segala sesuatunya berlawanan dengan faktor-faktor penyebab di atas. Misalnya akrabkan diri anda dengan anak-anak. Tingkatkan kuantitas dan kualitas interaksi anda. Lha tuntutan pekerjaan bagaimana? Lha untuk memenuhi kebutuhan bagaimana? Halah pertanyaan itu sudah ada sejak jaman Mojopahit. Tentukan keputusan yang tegas dan terima konsekuensinya. "Budidaya" atau berinvestasi dalam bentuk anak sangat menguntungkan lho. Untung/labanya bisa dibawa sampai sampai akherat. Apa uang, mobil,rumah, tanah anda bisa?

Kalau saat ini anak anda termasuk anggota Persekongkolan Remaja Keluyur Indonesia ( silahkan buat singkatannya sendiri ya) maka terima saja dengan ikhlas dan tabah. Tentu saja anda tetap wajib berusaha menyadarkannya. Silahkan baca masukan saya di bawah ini, siapa tahu cucok

a. Bicaralah dengan anak dari hati ke hati

Langsung contoh aja ya. Misalnya anak anda berulang tahun. Aturlah cara merayakannya paling berkesan  dibanding sebelum-sebelumnya. Tidak perlu pesta dan mengundang banyak teman. Cukup si anak yang berulang tahun, ibu dan ayah. Ajaklah ke suatu tempat yang eksklusif yang bisa menjamin privasi anda bertiga. Berikan hadiah yang paling dia inginkan, mahal enggak apa-apa, tapi tetap surprise loh. Katakan aja anda tak bisa memberi hadiah yang wahh pada hari sebelumnya. Singkat cerita sampai di tempat tujuan, ucapkan selamat dan serahkan hadiah yang di luar dugaannya itu. Anda pasti bisa membayangkan bagaimana reaksi dan ekspresi anda ( misal hadiahnya smartphone model terbaru yang paling digandrungi remaja saat ini). Saat itulah anda "masuk". Curhatkan semua kesedihan anda melihat anaknya suka keluyuran. Berbicarah dengan tulus dari lubuk hati anda. Kalau ingin menangis,menangis saja di depan dia. Anda pasti akan sependapat dengan saya : senakal apapun seorang anak pasti akan tersentuh diperlakukan begitu. Ya kan? Saat ada tanda-tanda dia ikut sedih mendengar cerita anda buatlah (dengan cara sehalus mungkin) dia berjanji akan merubah kebiasannya ngeluyur itu.

b. Berdoa

Ini adalah solusi favorit saya. Wong nyatanya anak memang titipan Tuhan maka sungguh tepat kalau anda memohon bantuan pada Yang Menitipkan. Berdoalah dengan bahasa dan cara apa saja sesuai agama dan keyakinan anda. Tapi jangan lupakan yang satu ini : anda harus berdoa dengan sungguh-sungguh dan YAKIN PASTI dikabulkan. Amiin...

Udah itu aja dulu ya. Alangkah indahnya kalau anda bersedia meninggalkan komentar.
Terima kasih, mudah-mudahan bisa memberi manfaat.



Kenapa Remaja Sekarang Banyak yang Mengalami Gangguan Emosi dan Perilaku


Apabila anda kebetulan adalah seorang guru di SMP, MTs, SMA, MA, SMK atau sekolah lain yang sederajat mungkin akan terbiasa melihat perilaku beberapa siswa yang notabene adalah remaja dengan gangguan perilaku yang tidak wajar. Atau meskipun anda bukan seorang guru tapi orang tua yang peka maka anda pasti juga akan melihat ada tanda-tanda gangguan perilaku pada remaja di sekitar anda atau jangan-jangan bahkan anak anda sendiri. Ya fenomena seperti itu memang marak akhir-akhir ini. Nampaknya tambah tahun gaangguan perilaku pada remaja akan tambah banyak dan tambah sulit diatasi. Artikel ini akan mencoba membahas hal tersebut secara ringan saja karena saya bukanlah psikolog atau seorang ahli masalah gangguan perilaku.



Jenis  Gangguan Perilaku


Saya akan memaparkan beberapa jenis saja yang semuanya saya ambil dari beberapa sumber dan pengalaman sehari-hari. Kalau mau detail anda bisa kuliah psikolologi atau baca-baca lliteratur mata kuliah psikologi, he..he..

1. Gangguan Perilaku  (Conduct Disorder)

Ini yang sering terjadi di sekitar kita. Contoh gangguan ini adalah suka memukul, memeras teman, berkelahi, mengejek, tidak  mau menuruti perintah guru atau orang tua, menangis, merusak dan suka berteriak, tidak tahu sopan-santun, berkata kasar atau jorok dalam frekuensi di atas rata-rata. Siswa-siswa SMP/MTs mulai kelas VIII banyak yang sudah mengalami gejala ini.

2. Perilaku Kekanak-kanakan atau Tidak Matang

Ada standar kenormalan/kematangan anak yang disesuaikan dengan usianya. Remaja dengan gangguan ini biasanya menarik diri dari lingkungan sosialnya, tidak mau bergaul dengan teman-teman seusianya malah lebih senang melamun sendiri atau berkhayal. Mereka bahkan tidak mempunyai ketrampilan sosial untuk bersenang-senang, misalnya ketika diajak piknik dengan teman sekelas dan tiba di lokasi wisata mereka nampak tidak tertarik. Tidak mau turun dari bis atau kalaupun mau turun paling Cuma beli makanan aja lalu balik lagi ke dalam bis. Anak-anak semacam ini juga mengalami regresi yaitu kondisi dimana dia seperti kembali ke masa kanak-kanak, sangat manja daan sedikit-sedikit minta bantuan. Sudah kelas IX SMP tapi seperti masih SD kelas IV, sering lupa membawa buku pelajaran dan PR tidak pernah dikerjakan. Seperti anak yang tidak tahu bahwa posisisinya sebagai murid harus begini-begini. Tanda lain adalah mereka merasakan ketakutan yang jauh melampaui keadaan sebenarnya.


                                      Penyebab

1. Kondisi Fisik
Maksud dari kondisi fisik adala keadaan fisik anak/remaja yang “berbeda” dengan teman sebayanya. Cacat fisik jelas merupakan kondisi yang sangat memengaruhi. Tapi bukan hanya cacat, kondisi yang tidak terlalu ekstrimpun bisa berdampak. Kulit yang lebih gelap, rambut keriting, tubuh kecil pendek, terlalu gemuk, kurus tinggi, ada tahi lalat besar di wajah adalah contoh kondisi yang sebenarnya anak lain bisa “berdamai” dengan ini.

2. Memasuki Fase Perkembangan Baru
Kita maklum bahwa tiap anak atau remaja pada usia tertentu akan memasuki tahap perkembangan tertentu atau perkembangan baru. Saat ini terjadi remaja akan dihadapkan pada berbagai tantangan krisis emosi baru. Apabila dirinya bisa mengatasi ini maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya itu dengan mulus. Tapi kalau dia gagal maka dia aka berhadapan dengan konflik emosi baru dan mengalami gangguan perilaku.

3. Lingkungan Keluarga
Hal-hal dalam keluarga yang bisa memengaruhi adalah:
--Kasih sayang
--Keharmonisan keluarga
--Keadaan ekonomi

4 .Lingkungan Sekolah
Guru yang dianggap otoriter, galak dan menakutkan akan membuat anak malas sekolah, setidaknya saat jam pelajaran guru tersebut sehingga anak akan sering membolos dan keluyuran kesana kemari saat jam sekolah. Yang agak aneh adalah mungkin bagi anak-anak lain karakter guru tersebut wajar-wajar saja dan bisa diterima tapi bagi anak-anak ini karakter guru tersebut dianggap sebagai masalah yang sangat berarti. Faktor berikutnya adalah tidak adanya fasilitas sekolah yang bisa dijadikan sarana menyalurkan bakat dan kegiatan anak saat senggang. Akibatnya anak akan melakukan hal-hal yang kurang baik.

5. Lingkungan Masyarakat
Ada di beberapa kelompok masyarakat dimana orang-orang dewasa terbiasa berkata dengan suara keras, kasar, ujaran-ujaran jorok. Mereka juga tidak peduli apakah cara bicara mereka ini didengarkan anak-anak usia sekolah atau tidak. Contoh lain adalah seringnya pertunjukkan dangdut yang ditampilkan di masyarakat. Biasanya penyanyi wanitanya akan berpakaian sangat minim disertai goyangan-goyangan erotis.  Para penonton asyik berjoget dengan bau alkohol keluar dari nafasnya dan setelah beberapa jam tawuran terjadi. Anak usia SMP dan SMA buanyak sekali yang menonoton. Faktor-faktor tersebut jelas berpengaruh besar bagi terbentuknya gangguan perilaku pada remaja.

                                                     Cara Mengatasi

Anak-anak dengan gangguan emosi dan tingkah laku ini –biasa disebut tunalaras- adalah bagian dari masyarakat kita. Mereka menjengkelkan,: iya, mereka sering membuat masalah: iya, mereka sering dikeluarkan dari sekolah: iya, tapi apakah mereka memang layak diperlakukan begitu? Para remaja itu adalah tanggung jawab kita, tanggung jawab orang-orang desa, tanggung jawab para guru, tanggung jawab pak lurah dan tentu saja tanggung jawab negara, he…he. Berikut ini adalah beberapa hal mungkin bisa dijadikan solusi untuk mengatasi remaja dengan gangguan emosi dan perilaku.

…Bimbingan Orang Tua

Bersabarlah bagi anda bila kebetulan diuji mempunyai anak dengan gangguan ini. Ya, kesabaran adalah modal utam yang tidak boleh hilang dari diri anda. Anda sekeluarga juga harus mempersiapkan diri lebih matang dan terprogram karena anda diwajibkan menyediakan waktu dan perhatian lebih dibanding orang tua yang lain. Curahkan segenap kasih sayang anda, lebih tulus lagi pada anak anda. Buatlah lebih banyak saat-sat indah bersama anak sehingga anda dan anak bisa lebih akrab dan bisa berkomunikasi lebih terbuka. Biarkan anak menceritakan apa saja yang ada di hati dan pikirannya. Berikan solusi yang masuk akal, jelas dan tidak mendoktrin. Usaha yang juga tidak boleh anda lupakan adalah berdoa agar anak anda bisa “kembali” seperti anak-anak lain yang tidak menderita gangguan perilaku.

…Bimbingan dan Konseling di sekolah

Peran guru BK (Bimbingan Konseling) sangat menentukan. Guru BK harus jeli mengidentifikasi anak-anak dengan potensi gangguan ini. Panggil mereka di ruang khusus dan adakan obrolan-obrolan santai, ringan tai terarah. Dalam proses belajar mengajar mereka masih berkumpul dengan teman-teman sekelasnya seperti biasa namun harus selalu dipantau secara khusus.

…Kelas Khusus

Bila kondisi mengharuskan maka pemisahan anak-anak ini di kelas khusus bisa dilakukan.(Ini jarang dilakukan, biasanya ya langsung dikeluarkan dari sekolah, he..he.. ).Kelas ini masih menjadi bagian dari sekolah  yang bersangkutan dan dipegang oleh satu orang guru profesioanl yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan penyuluhan atau konseling. Atau bisa juga oleh guru lain yang benar-benar berpengalaman dan sabar membimbing anak.

…Sekolah Luar Biasa bagian Tunalaras

Bila pihak sekolah reguler/ sekolah umum merasa gagal membimbing anak-anak ini maka langkah selanjutnya adalah memasukkan mereka ke Sekolah Luar Biasa (SLB) bagian Tunalaras. Tergantung tingkat “keparahannya” , bila didiagnosa sudah sangat parah sehingga  bisa membahayakan maka sebaiknya dimasukkan ke SLB berasrama.

Demikian artikel dari muchfauzi.com saat ini. Terima kasih anda sudah membacanya. Bila anda berkenan silahkan share dan tinggalkan komentar.


Agar Anak Percaya Diri dan Tidak Penakut



Putra bu Nurul kok lincah banget dan gampang akrab dengan orang baru ya. Meski  tamu yang datang ke rumahnya berbeda-beda orang tapi dia kok enak aja ngajak salim. Kalau ditanya macam-macam kok semua dijawab ya.
Putri bu Sarono juga gitu. Kelihatan percaya diri, pemberani dan gampang bergaul. Pembawaannya ringan, lincah dan cerdas.
Tapi anakku kok penakut ya. Cenderung pemalu, tertutup dan sulit diajak komunikasi dengan orang baru. Apanya yang salah? Padahal aku sudah mendidiknya dengan sungguh-sungguh, memperhatikan dan memenuhi semua kebutuhannya.
Kira-kira begitulah fenomena yang sering terjadi di kalangan orang tua-dalam konteks ini lebih merujuk pada ibu-ibu-yang berkaitan dengan keprihatinan mereka terhadap anak mereka. Artikel ini akan berusaha mengurai dari pangkal hingga ujung dari masalah tersebut.
                                                       
     



Penyebab anak penakut
1.Ibunya memang penakut
Banyak lho ibu yang punya sifat dasar penakut. Dia bisa takut pada binatang tertentu (ini bisa juga diartikan geli atau jijik) misalnya pada ular, ulat, kadal, tikus bahkan kucing. Ya kucing! Atau takut pada tahayul, hantu, kepercayaan kuno yang tidak masuk akal dan mitos.
Sebenarnya ibu yang penakut tidak berpengaruh apa-apa pada sifat anak asal rasa takutnya itu dikonsumsi sendiri, bukan malah ditularkan pada anak-anak. Saat anak mau memegang bangkai ular misalnya si ibu akan langsung berteriak, “ Hii Adeek jijik, jangan dipegang”. Anak yang awalnya tidak punya perasaan apa-apa pada bangkai ular awlnya akan bingung dengan maksud ibunya tapi lama-lama dia akan ikut-ikutan takut juga.
Contoh lain saat anak tidak mau segera tidur (yang saya tahu ini lebih banyak terjadi di desa atau pada masyarakat yang tingkat pendidikannya  masih kurang). Ibu akan menakut-nakuti anak dengan mengatakan: “Dengar suara apa itu, makanya ayo cepat tidur. Awas lho kalau ga mau tidur nanti ada hantu, dan sejenisnya. Atau saat ada tetangga yang baru saja meninggal maka malam harinya akan menjadi malam dengan suasana yang berbeda dibanding malam-malam sebelumnya.


2.Teman-teman pergaulannya penakut dan suka menakut-nakuti

Ada banyak cerita dimana seorang anak yang awalnya sangat pemberani setelah pindah ke tempat baru dengan teman-teman baru dia berubah jadi penakut. Ini memang benar dan sulit dihindari. Pengaruh pergaulan bagi seorang anak memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam perkembangan karakternya. Pernahkah anda melakukan investigasi darimana kira-kira anak anda mendapat kata “pocong atau hantu”? Bayangkan adegan ini: Anak anda yang tidak tahu apa-apa tentang pocong, lalu saat berkumpul dengan teman-temannya mereka berteriak:” Lariii.. ada pocong”.  Pasti anak anda akan ikut lari dan bisa merasakan aura ketakutan, meski awalnya Cuma ikut-ikutan aja.
Hari-hari berikutnya anak anda akan menerima banyak cerita horor dari satu teman berganti ke teman yang lain.
Hal yang sama juga berlaku dalam hal takut pada binatang, kuburan atau sosok tertentu.

Penyebab anak tidak percaya diri

1.Sering direndahkan, tak pernah mendapat pujian

Anak saya gambarnya tidak bagus (jelek maksudnya he..he). Tapi kebetulan saya tahu teorinya bahwa kita  harus pintar-pintar membuat anak tetap percaya diri. Tiap kali dia menunjukkan gambarnya ( yang jelek itu) saya selalu mengatakan bahwa gambarnya luar biasa bagusnya. Lalu hampir tiap hari dia mampu menggambar kapal, robot, rumah, sapi dll. Suatu ketika saya heran, kok lama dia tidak menghasilkan karya. Di saat yang hampir bersamaan saat melihat gambar desanya yang barusan dikerjakan di sekolahan. “ Lho ini bagus banget Dek, kapan ini bikinnya? Anak saya menjawab dengan loyo: “Bagus apanya . Kata bu guru gambarku…. (bu guru menyebut ungkapan bahasa jawa yang artinya “gambarmu gak karu-karuan).
Ibu guru di atas adalah contoh guru yang membunuh rasa percaya diri anak. Sangat tidak boleh guru berkata demikian, apalagi guru TK. Apa anda sebagai  ibunya sendiri akan tega memperlakukan anak sendiri begitu? Anak usia PAUD, TK dan SD kelas 1, 2 harus sering dipupuk rasa percaya dirinya dengan cara banyak memuji. Atau setidaknya jangan merendahkanlah
.
2.Kalah dominasi di kelompoknya dan sering dibully

Ini sangat berbahaya bunda.  Apalagi kondisi seperti ini sering tidak diketahui orang tua. “Keanehan fisik” (menurut teman-temannya) pada anak misalnya tubuh kecil, terlalu gendut kulit hitam, bicara cadel, rambut keriting kecil-kecil adalah obyek bully yang sangat populer. Apalagi kalau (maaf) ada bagian tubuh yang kurang sempurna, makin merajalelalah mereka. Ditambah lagi bila selisih usia anak-anak dalam suatu kelompok terlalu tidak imbang, maka yang lebih tua dipastikan lebih mendominasi.

Mendidik anak agar percaya diri dan tidak penakut

Lalu bagaimana caranya agar anak kita bisa seperti anak bu Nurul dan bu Sartono?
Solusinya pertama adalah dengan memperlakukan anak  dengan penuh kasih sayang. Terima dan syukuri seberapapun bakat dan kecerdasannya. Jangan pernah merendahkan atau menghina anak kita sendiri. Selalu semangati dia, yakinkan kalau dia adalah baik, pintar dan berbakat. Sekesal apapun kita tetaplah ingat untuk tidak menghancurkan rasa percaya dirinya. Memarahi anak itu wajar dan boleh saja, tapi tetap harus hati-hati mengeluarkan kalimat dari mulut kita.

Solusi kedua adalah jangan menularkan rasa takut, rasa jijik atau mitos yang selama ini menghantui anda pada anak. Silahkan simpan dan pertahankan itu untuk anda sendiri. Kalau anda tidak doyan sayur kacang panjang karena anda pernah melihat ada ulat di dalamnya, anda tak perlu mempromosikan ketidakdoyanan anda. Biarkan anak lahap makan sayur kacang panjang yang banyak gizinya itu. Kalaupun ada ulat matang di dalamnya dan ikut termakan ya tidak apa-apa.Wong ulatnya sudah direbus dengan suhu  100 derajat celcius kok. Selama aman biarkan saja anak bermain dengan apa saja.

Solusi ketiga adalah anda harus tahu persis anak bergaul dengan teman macam apa. Cara yang paling mudah adalah dengan membiasakan anak bermain di rumah atau lingkungan sekitar rumah saja. Biar temen-temannya yang datang. Mungkin rumah anda akan ramai dan berantakan tapi anda kan mudah mendeteksi  isi dialog mereka, kalimat mana yang tidak pantas dan anak mana yang kira-kira berpotensi membawa pengaruh yang tidak anda inginkan.

Sudah. Saya rasa artikel ini sudah cukup panjang. Mudah-mudahan bisa memberi manfaat. Terima kasih atas kunjungan anda, silahkan berkomentar dan bagikan artikel ini.




Gunakan Herbal untuk Demam dan Flu


Senang sekali anda berkenan berkunjung ke muchfauzi.com. Terima kasih banyak ya. Saya akan mencoba berbagi mengenai cara mengobati sakit demam dan sakit-sakit lainnya menggunakan bahan herbal. Informasi ini saya dapatkan dari cerita orang-orang, tayangan televisi, radio, koran dan buku. Beberapa sudah dicoba dan terbukti berhasil, tapi ada juga yang tidak puas lalu pergi ke dokter. Saya tidak bertanggung jawab misalnya terjadi "hal-hal yang tidak diinginkan" karena tubuh seseorang mempunyai cara penerimaan dan penyesuaian yang berbeda-beda terhadap apa saja yang masuk ke dalamnya. Bila sakit berlanjut alangkah baiknya hubungi dokter (kayak iklan aja he..he) . Tapi insya Allah herbal yang saya bagikan di sini AMAN.

1. Mengobati Demam

a. Yang perlu anda siapkan adalah 7 lembar daun kaca piring lalu remas-remas dengan menggunakan 1 gelas air. Setelah itu saring lalu campur dengan gula batu. Aduk sampai gula batunya larut. Minumlah seperti biasa aja. Anda bisa meminum begitu saja atau direbus dulu. Minum hangat-hangat.

                                                 

b. Ambil daun jayanti ( di tempat saya namanya turi) dengan jumlah yang kira-kira cukup.Lalu diremas-remas Bagus lagi dicampur dengan adas, tidak ya tidak apa-apa. Lalu balurkan ke seluruh tubuh penderita. remasan daun turi bisa memberi rasa sejuk


2. Mengobati  Flu

a. Anda pasti tahu pegagan / kaki kuda kan? Tanaman ini terkenal sekali lho di Indonesia. Untuk mengobati flu silahkan haluskan 1 genggam daun pegagan, Bisa ditumbuk atau dipipis (bukan di pipisi....). Lalu ambil airnya.Untuk mengurangi rasa aslinya tambahkan sedikit garam lalu minum. Jangan lupa sebelum minum berdoa dulu ya
b. Nah yang ini lebih gampang lagi. Pangganglah 1 buah jeruk nipis lalu peras untuk mengambil airnya. Lalu campur dengan setengah sendok minyak kayu putih dan kapur sirih secukupnya. Aduk dan saring. Minum cukup sekali sehari sampai flu hilang atau berkurang. 

Ini saja dulu ya. Kapan-kapan Insya Allah saya sambung lagi

Cara Mengatasi Anak Tidak Mau Makan Sayur dan Buah




Judul di atas sebenarnya paling pas untuk anak saya sendiri Kaff. Dia paling susah kalau ditawarin makan sayur dan buah. Belum lagi makan rutinnya juga ogah-ogahan. Nggak heran kalau badannya kurus kering dan kalau sakit lama nggak sembuh-sembuh. Setiap periksa dokter pasti bilang makannya ditambah dan sayur buahnya juga ditambah.

Harap disadari bahwa sayur dan buah memang sangat penting bagi anak-anak. Sayur dan buah bisa membuat pencernaan menjadi lebih baik. kandungan seratnya juga bisa bikin BAB lancar. Belum lagi berbagai vitamin yang ada di dalamnya yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

Berikut ini beberapa cara yang bisa dicoba agar anak doyan makan sayur dan buah.


1. Jangan Terlalu Memaksa. 

Ini memang sering dilakukan orang tua terutama ibu-ibu (??). Mereka saking semangatnya berkata: Ayo Dek pakai sayur ya. Sayur banyak gizinya lho. Hayo sayurnya dimakan biar tambah sehat.Adek kok nggak mau makan sayur tu kenapa? Ayo dimakan biar tambah sehat. Dan lain-lain.Kalau anda mencermati kalimat-kalimat itu bukanlah anjuran atau penyadaran pada anak agar mau makan sayur dan buah. Kalimat-kalimat itu adalah  kalimat paksaan yang tentu saja membuat anak semakin enggan menuruti?Terus gimana agar anak menurut? Cara yang kita pakai di sini sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai trik atau "penggiringan" yang tidak disadari anak. Misalnya awalnya di piring tidak usah diberi sayuran dulu, cukup kuahnya saja. Kandungan zat-zat bermanfaat dalam kuah kira-kira sama dengan makan sayurnya. Bilang saja nasinya agak keras makanya diberi kuah biar jadi lunak. Atau saat makan sore ajak keluar berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Kalau ada anak lain ( Intan misalnya) doyan banget makan sayur, anda bisa berkata: Ini lho Dek Intan cantik banget. Kalau ada sayur pasti dimakan semua, dsb. Dengan cara ini diharapkan anak anda akan terpengaruh dan ikut-ikutan memakannya.



2. Buat Menjadi Olahan Makanan yang Lain
Seperti sifat anak-anak yang lebih menyukai gambar daripada tulisan maka anak-anak juga lebih menyukai makanan yang dikreasi menjadi bentuk, warna atau cara penyajian yang berbeda. Untuk buah misalnya anda bisa mengiris apel. pir, semangka dan mangga lalu tusuklah sehingga menjadi sate buah. Coba aja, umumnya paling tidak anak akan masih tertarik sampai tiga kali.
Untuk sayur anda bisa menggorengnya. Rempeyek daun bayam sudah sangat terkenal disukai anak-anak dan gampang membuatnya.

3. Beri Sugesti yang Kuat Tentang Kebaikan Buah atau Sayur Tertentu
Silahkan Anda memutar sebuah film kartun. Popeye the Sailor Man misalnya. Ajak anak Anda nonton bareng kakak, adik atau teman yang lain. Di film itu kan sangat terkenal adegan dimana Popeye mengonsumsi bayam saat keadaan gawat. Lalu sesaat kemudian lengan kanannya membesar dan kekuatannya bertambah berlipat-lipat. Nah dari kebiasaan Popeye itulah Anda bisa merayu putra putri Anda dengan mengatakan:" Makanya Adik banyak makan sayur ya, biar bisa kuat seperti Popeye". Atau dari film anak-anak lain. Atau dari buku dongeng. Kalau Anda betul-betul ingin mendapatkannya, pasti dalam waktu dekat akan menemukannya. banyak kok referensi-referensi tetntang pentingnya sayur dan buah bagi anak-anak.
  


Demikian sedikit masukan dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat

Anak Malas Mengerjakan Shalat Secara Rutin


Sebagai orang tua tentu kita sedih melihat anak kita tidak mau menjalankan sholat. Karena anak adalah titipan dari Allah maka sudah menjadi kewajiban kitalah mendidik dan membimbingnya. Mungkin beberapa tips berikut ini bisa sedikit memberikan masukan untuk mengatasi persoalan tersebut.



1. Orang Tua Harus Memberi Contoh

Seperti kita maklum anak akan selalu mencontoh apa yang dilihatnya. Apalagi kita sebagai orang tua yang setiap hari bersamanya maka setiap ucapan dan tingkah laku kita akan mudah terekam di otaknya. Cara kita bicara, makan, menerima tamu, marah dan lain-lain akan sangat mudah ditiru anak. Dalam konteks sholat, sholat harus menjadi pemandangan sehari-hari anak. Baik itu di rumah atau diajak berjamaah ke masjid atau mushola. Sebenarnya tanpa disuruhpun anak akan coba-coba melakukan sholat. Itulah kenapa putra-putri seorang kyai atau pengasuh pondok pesantren biasanya lebih mudah menyesuaikan diri dalam hal pengalaman sholat. Karena memang sejak lahir setiap hari otak mereka selalu merekam adegan sholat ini.

2.  Ajari Dengan Cara Halus

Ajarkan sholat pada umur 7 tahun dan boleh dipukul kalau sudah 10 tahun tapi tetep tidak mau sholat. Saya mempercayai kebenaran hadist itu 100%. Jadi anda jangan menganggap saya yang enggak-enggak ya( he..he..). Tapi saya tetap menyarankan poin kedua ini. Alasannya: sholat adalah hal baik dan akan dilaksanakan seumur hidup. Jangan sampai kita menyuruh anak melakukan kebaikan dengan cara yang menakutkan. Bukaannya tertarik, tapi nanti anak bisa-bisa malah nggak respek dan menjauh. Ceritakan dongeng-dongeng tentang anak yang rajin sholat beserta kisah-kisah mukjizatnya. Beritahu dia apa saja kedahsyatan kekuatan sholat. Anda juga bisa memfoto anak saat memakai pakaian muslim. Puji dia bahwa dia kelihatan begitu sholeh/sholehah dan pasti tambah disayang Allah.

3.  Akrabkan Hubungan Orang Tua dan Anak

Syarat yang satu ini juga penentu utama. Kalau kita perhatikan ada model orang tua yang giat banget bekerja, berangkat subuh pulang selepas isya. Bisa dikatakan semua kebutuhan anak terpenuhi mulai dari biaya pendidikan, pakaian bagus-bagus, kendaraan, HP dan lain-lain yang berwujud benda. Kalau ditanya kok rajin banget bekerja pak? Jawabannya anda sudah tahu: Semua demi anak. Padahal yang paling dibutuhkan anak adalah kasih sayang dan kedekatan dengan orang tua. Anak-anak -terutama yang mash SD- tidak terlalu tahu seluk beluk uang. Tak ada yang bilang uang tak penting, tapi tetap harus seimbang.

Kalau hubungan orang tua dan anak sudah akrab semua bisa dengan mudah diomongkan. Anak ditanya juga mau menjawab. Coba anda baca sejenak dialog ini:


Ibu    :  Ayo Nak sholat sana. Udah maghrib itu

Anak:   (diam tak menjawab, tetap tak sholat juga)

Ayah   : Kata Ibu kamu jarang sekali sholat ya. Kenapa?

Anak   : Enggak kenapa-kenapa.

Ayah   : Malas ya?

Anak   : Enggak

Itu adalah contoh dialog macet. dialog itu terjadi karena orang tua kurang berinteraksi dengan anak. Kalau suasana dialognya aja sudah begitu, apa yang bisa diharapkan?


Karena itulah maka jangan terlalu keras pada anak. Jangan selalu marah atau terkesan disiplin. Seringlah bergurau dengan anak terutama setelah anda memarahinya. Ajak piknik murah atau outbond bersama.

4.  Berdoa

Last but not least, terakhir tapi tetap penting, bahkan ini bisa dikatakan yang paling penting. Kita tahu bahwa anak adalah titipan dari Allah. Karena itu tidak ada salahnya saat kita merasakan ada masalah kita kembalikan pada Yang Menitipkan. Doanya apa aja?
Salah satunya yang di atas itu ya. Yang lainnya sabar ya, insyaAllah kapan-kapan saya update