16 January 2018

Anak Malas Mengerjakan Shalat Secara Rutin


Sebagai orang tua tentu kita sedih melihat anak kita tidak mau menjalankan sholat. Karena anak adalah titipan dari Allah maka sudah menjadi kewajiban kitalah mendidik dan membimbingnya. Mungkin beberapa tips berikut ini bisa sedikit memberikan masukan untuk mengatasi persoalan tersebut.

1. Orang Tua Harus Memberi Contoh

Seperti kita maklum anak akan selalu mencontoh apa yang dilihatnya. Apalagi kita sebagai orang tua yang setiap hari bersamanya maka setiap ucapan dan tingkah laku kita akan mudah terekam di otaknya. Cara kita bicara, makan, menerima tamu, marah dan lain-lain akan sangat mudah ditiru anak. Dalam konteks sholat, sholat harus menjadi pemandangan sehari-hari anak. Baik itu di rumah atau diajak berjamaah ke masjid atau mushola. Sebenarnya tanpa disuruhpun anak akan coba-coba melakukan sholat. Itulah kenapa putra-putri seorang kyai atau pengasuh pondok pesantren biasanya lebih mudah menyesuaikan diri dalam hal pengalaman sholat. Karena memang sejak lahir setiap hari otak mereka selalu merekam adegan sholat ini.

2.  Ajari Dengan Cara Halus

Ajarkan sholat pada umur 7 tahun dan boleh dipukul kalau sudah 10 tahun tapi tetep tidak mau sholat. Saya mempercayai kebenaran hadist itu 100%. Jadi anda jangan menganggap saya yang enggak-enggak ya( he..he..). Tapi saya tetap menyarankan poin kedua ini. Alasannya: sholat adalah hal baik dan akan dilaksanakan seumur hidup. Jangan sampai kita menyuruh anak melakukan kebaikan dengan cara yang menakutkan. Bukaannya tertarik, tapi nanti anak bisa-bisa malah nggak respek dan menjauh. Ceritakan dongeng-dongeng tentang anak yang rajin sholat beserta kisah-kisah mukjizatnya. Beritahu dia apa saja kedahsyatan kekuatan sholat. Anda juga bisa memfoto anak saat memakai pakaian muslim. Puji dia bahwa dia kelihatan begitu sholeh/sholehah dan pasti tambah disayang Allah.

3.  Akrabkan Hubungan Orang Tua dan Anak

Syarat yang satu ini juga penentu utama. Kalau kita perhatikan ada model orang tua yang giat banget bekerja, berangkat subuh pulang selepas isya. Bisa dikatakan semua kebutuhan anak terpenuhi mulai dari biaya pendidikan, pakaian bagus-bagus, kendaraan, HP dan lain-lain yang berwujud benda. Kalau ditanya kok rajin banget bekerja pak? Jawabannya anda sudah tahu: Semua demi anak. Padahal yang paling dibutuhkan anak adalah kasih sayang dan kedekatan dengan orang tua. Anak-anak -terutama yang mash SD- tidak terlalu tahu seluk beluk uang. Tak ada yang bilang uang tak penting, tapi tetap harus seimbang.
Kalau hubungan orang tua dan anak sudah akrab semua bisa dengan mudah diomongkan. Anak ditanya juga mau menjawab. Coba anda baca sejenak dialog ini:

Ibu    :  Ayo Nak sholat sana. Udah maghrib itu
Anak:   (diam tak menjawab, juga taksholat)

Ayah   : Kata Ibu kamu jarang sekali sholat ya. Kenapa?
Anak   : Enggak kenapa-kenapa.
Ayah   : Malas ya?
Anak   : Enggak

Itu adalah contoh dialog macet. dialog itu terjadi karena orang tua kurang berinteraksi dengan anak. Kalau suasana dialognya aja sudah begitu, apa yang bisa diharapkan?

Karena itulah maka jangan terlalu keras pada anak. Jangan selalu marah atau terkesan disiplin. Seringlah bergurau dengan anak terutama setelah anda memarahinya. Ajak piknik murah atau outbond bersama.

4.  Berdoa

Last but not least, terakhir tapi tetap penting, bahkan ini bisa dikatakan yang paling penting. Kita tahu bahwa anak adalah titipan dari Allah. Karena itu tidak ada salahnya saat kita merasakan ada masalah kita kembalikan pada Yang Menitipkan. Doanya apa aja?
Salah satunya yang di atas itu ya. Yang lainnya sabar ya, insyaAllah kapan-kapan saya update

Baca juga: Anak Malas Belajar