Kenapa Remaja Sekarang Banyak yang Mengalami Gangguan Emosi dan Perilaku


Apabila anda kebetulan adalah seorang guru di SMP, MTs, SMA, MA, SMK atau sekolah lain yang sederajat mungkin akan terbiasa melihat perilaku beberapa siswa yang notabene adalah remaja dengan gangguan perilaku yang tidak wajar. Atau meskipun anda bukan seorang guru tapi orang tua yang peka maka anda pasti juga akan melihat ada tanda-tanda gangguan perilaku pada remaja di sekitar anda atau jangan-jangan bahkan anak anda sendiri. Ya fenomena seperti itu memang marak akhir-akhir ini. Nampaknya tambah tahun gaangguan perilaku pada remaja akan tambah banyak dan tambah sulit diatasi. Artikel ini akan mencoba membahas hal tersebut secara ringan saja karena saya bukanlah psikolog atau seorang ahli masalah gangguan perilaku.

                       Jenis  Gangguan Perilaku
Remaja sekarang banyak yang mengalami gangguan perilaku


Saya akan memaparkan beberapa jenis saja yang semuanya saya ambil dari beberapa sumber dan pengalaman sehari-hari. Kalau mau detail anda bisa kuliah psikolologi atau baca-baca lliteratur mata kuliah psikologi, he..he..

1. Gangguan Perilaku  (Conduct Disorder)

Ini yang sering terjadi di sekitar kita. Contoh gangguan ini adalah suka memukul, memeras teman, berkelahi, mengejek, tidak  mau menuruti perintah guru atau orang tua, menangis, merusak dan suka berteriak, tidak tahu sopan-santun, berkata kasar atau jorok dalam frekuensi di atas rata-rata. Siswa-siswa SMP/MTs mulai kelas VIII banyak yang sudah mengalami gejala ini.

2. Perilaku Kekanak-kanakan atau Tidak Matang

Ada standar kenormalan/kematangan anak yang disesuaikan dengan usianya. Remaja dengan gangguan ini biasanya menarik diri dari lingkungan sosialnya, tidak mau bergaul dengan teman-teman seusianya malah lebih senang melamun sendiri atau berkhayal. Mereka bahkan tidak mempunyai ketrampilan sosial untuk bersenang-senang, misalnya ketika diajak piknik dengan teman sekelas dan tiba di lokasi wisata mereka nampak tidak tertarik. Tidak mau turun dari bis atau kalaupun mau turun paling Cuma beli makanan aja lalu balik lagi ke dalam bis. Anak-anak semacam ini juga mengalami regresi yaitu kondisi dimana dia seperti kembali ke masa kanak-kanak, sangat manja daan sedikit-sedikit minta bantuan. Sudah kelas IX SMP tapi seperti masih SD kelas IV, sering lupa membawa buku pelajaran dan PR tidak pernah dikerjakan. Seperti anak yang tidak tahu bahwa posisisinya sebagai murid harus begini-begini. Tanda lain adalah mereka merasakan ketakutan yang jauh melampaui keadaan sebenarnya.


                                      Penyebab

1. Kondisi Fisik
Maksud dari kondisi fisik adala keadaan fisik anak/remaja yang “berbeda” dengan teman sebayanya. Cacat fisik jelas merupakan kondisi yang sangat memengaruhi. Tapi bukan hanya cacat, kondisi yang tidak terlalu ekstrimpun bisa berdampak. Kulit yang lebih gelap, rambut keriting, tubuh kecil pendek, terlalu gemuk, kurus tinggi, ada tahi lalat besar di wajah adalah contoh kondisi yang sebenarnya anak lain bisa “berdamai” dengan ini.

2. Memasuki Fase Perkembangan Baru
Kita maklum bahwa tiap anak atau remaja pada usia tertentu akan memasuki tahap perkembangan tertentu atau perkembangan baru. Saat ini terjadi remaja akan dihadapkan pada berbagai tantangan krisis emosi baru. Apabila dirinya bisa mengatasi ini maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya itu dengan mulus. Tapi kalau dia gagal maka dia aka berhadapan dengan konflik emosi baru dan mengalami gangguan perilaku.

3. Lingkungan Keluarga
Hal-hal dalam keluarga yang bisa memengaruhi adalah:
--Kasih sayang
--Keharmonisan keluarga
--Keadaan ekonomi

4 .Lingkungan Sekolah
Guru yang dianggap otoriter, galak dan menakutkan akan membuat anak malas sekolah, setidaknya saat jam pelajaran guru tersebut sehingga anak akan sering membolos dan keluyuran kesana kemari saat jam sekolah. Yang agak aneh adalah mungkin bagi anak-anak lain karakter guru tersebut wajar-wajar saja dan bisa diterima tapi bagi anak-anak ini karakter guru tersebut dianggap sebagai masalah yang sangat berarti. Faktor berikutnya adalah tidak adanya fasilitas sekolah yang bisa dijadikan sarana menyalurkan bakat dan kegiatan anak saat senggang. Akibatnya anak akan melakukan hal-hal yang kurang baik.

5. Lingkungan Masyarakat
Ada di beberapa kelompok masyarakat dimana orang-orang dewasa terbiasa berkata dengan suara keras, kasar, ujaran-ujaran jorok. Mereka juga tidak peduli apakah cara bicara mereka ini didengarkan anak-anak usia sekolah atau tidak. Contoh lain adalah seringnya pertunjukkan dangdut yang ditampilkan di masyarakat. Biasanya penyanyi wanitanya akan berpakaian sangat minim disertai goyangan-goyangan erotis.  Para penonton asyik berjoget dengan bau alkohol keluar dari nafasnya dan setelah beberapa jam tawuran terjadi. Anak usia SMP dan SMA buanyak sekali yang menonoton. Faktor-faktor tersebut jelas berpengaruh besar bagi terbentuknya gangguan perilaku pada remaja.

                                                     Cara Mengatasi

Anak-anak dengan gangguan emosi dan tingkah laku ini –biasa disebut tunalaras- adalah bagian dari masyarakat kita. Mereka menjengkelkan,: iya, mereka sering membuat masalah: iya, mereka sering dikeluarkan dari sekolah: iya, tapi apakah mereka memang layak diperlakukan begitu? Para remaja itu adalah tanggung jawab kita, tanggung jawab orang-orang desa, tanggung jawab para guru, tanggung jawab pak lurah dan tentu saja tanggung jawab negara, he…he. Berikut ini adalah beberapa hal mungkin bisa dijadikan solusi untuk mengatasi remaja dengan gangguan emosi dan perilaku.

…Bimbingan Orang Tua

Bersabarlah bagi anda bila kebetulan diuji mempunyai anak dengan gangguan ini. Ya, kesabaran adalah modal utam yang tidak boleh hilang dari diri anda. Anda sekeluarga juga harus mempersiapkan diri lebih matang dan terprogram karena anda diwajibkan menyediakan waktu dan perhatian lebih dibanding orang tua yang lain. Curahkan segenap kasih sayang anda, lebih tulus lagi pada anak anda. Buatlah lebih banyak saat-sat indah bersama anak sehingga anda dan anak bisa lebih akrab dan bisa berkomunikasi lebih terbuka. Biarkan anak menceritakan apa saja yang ada di hati dan pikirannya. Berikan solusi yang masuk akal, jelas dan tidak mendoktrin. Usaha yang juga tidak boleh anda lupakan adalah berdoa agar anak anda bisa “kembali” seperti anak-anak lain yang tidak menderita gangguan perilaku.

…Bimbingan dan Konseling di sekolah

Peran guru BK (Bimbingan Konseling) sangat menentukan. Guru BK harus jeli mengidentifikasi anak-anak dengan potensi gangguan ini. Panggil mereka di ruang khusus dan adakan obrolan-obrolan santai, ringan tai terarah. Dalam proses belajar mengajar mereka masih berkumpul dengan teman-teman sekelasnya seperti biasa namun harus selalu dipantau secara khusus.

…Kelas Khusus

Bila kondisi mengharuskan maka pemisahan anak-anak ini di kelas khusus bisa dilakukan.(Ini jarang dilakukan, biasanya ya langsung dikeluarkan dari sekolah, he..he.. ).Kelas ini masih menjadi bagian dari sekolah  yang bersangkutan dan dipegang oleh satu orang guru profesioanl yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan penyuluhan atau konseling. Atau bisa juga oleh guru lain yang benar-benar berpengalaman dan sabar membimbing anak.

…Sekolah Luar Biasa bagian Tunalaras

Bila pihak sekolah reguler/ sekolah umum merasa gagal membimbing anak-anak ini maka langkah selanjutnya adalah memasukkan mereka ke Sekolah Luar Biasa (SLB) bagian Tunalaras. Tergantung tingkat “keparahannya” , bila didiagnosa sudah sangat parah sehingga  bisa membahayakan maka sebaiknya dimasukkan ke SLB berasrama.

Demikian artikel dari muchfauzi.com saat ini. Terima kasih anda sudah membacanya. Bila anda berkenan silahkan share dan tinggalkan komentar.

Silahkan baca juga Anak suka berkata kasar dan kotor

0 Response to "Kenapa Remaja Sekarang Banyak yang Mengalami Gangguan Emosi dan Perilaku"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel