Penyebab Anak Malas Belajar


ANAK MALAS BELAJAR adalah fenomena lumrah yang bisa terjadi pada anak siapapun. Anak saya, anak anda, atau anak mereka (he..he). Yang dimaksud dengan malas belajar di sini adalah malas belajar di rumah dan malas belajar di sekolah. Baik itu anak yang duduk di bangku SD, SMP , SMA atau yang sederajat. Terlalu luas apa tidak nanti pembahasannya ya? A lah embuh nanti gampanglah. Kalau kira-kira melebarnya terlalu kemana-mana ya kita ciutkan lagi. Mulai !

Penyebab 

Agak susah menemukan penyebab awal dari penyakit malas belajar ini. Kalau dirunut kebelakang penyebabnya karena pola asuh sejak anak masih sangat kecil (belum sekolah). Karena tidak dibiasakan berfikir (misalnya diajari dialog bertanya dan menjawab), dibiasakan membaca saat sudah bisa membaca atau dilatih mengamati sesuatu maka tanpa disadari anak sudah bersekolah tanpa karakter senang belajar. Apalagi kalau dia adalah seorang anak yang punya mas atau mbak yang juga malas belajar. Jadi peran orang tualah yang paling awal menentukan di sini. Lha kalau orang tuanya juga bukan penghobi belajar, wah tambah ruwet urusannya. Penyebab lain adalah penerapan konsep belajar yang salah. Anggap saja misalnya sebenarnya si anak senang dan patuh diajak belajar. Tapi orang tua terlalu memaksa, sering membentak-bentak saat mendampingi belajar maka bisa dipastikan anak akan sedih saat akan mulai belajar. Belajar jadi menakutkan. Faktor ini juga bisa disebabkan oleh guru di sekolahnya. Maka tidak heran kalau setiap anak pasti tidak menyukai guru galak. Sekarang tentang metode belajarnya. Coba anda bayangkan acara belajar seperti ini: hafalan, menjawab 20 pertanyaan atau merangkum sebuah buku. Bandingkan dengan ini: belajar di tempat terbuka, ada permainannya, bisa tertawa lepas dan berkelompok. Betul ! Yang kedua tetap lebih disukai sebagian besar anak, meskipun ada beberapa anak yang “tahan” dengan model pertama. Media, ruang dan waktu yang asal-asalan atau jadul merupakan penghambat minat belajar anak yang sudah diakui oleh pakar teori pembelajaran manapun. Berikutnya adalah materi atau bahan yang  harus dipelajari. Kalau kita mau memperhatikan perkembangan kurikulum di Indonesia kita pasti bisa menemukan ada beberapa materi yang dulu hanya diajarkan di ajarkan di kelas 4 sekarang sudah diajarkan di kelas 2. Contohnya apa ya? Aduh lupa saya, tapi mungkin penjumlahan dan pengurangan bersusun bisa dijadikan sampel awal ( nanti kalau sudah ketemu contoh yang lebih fixed, akan saya usahakan update artikel ini, he..he..). Saya tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Kenapa yang dulu diajarkan baru di SMP sekarang sudah mulai diajarkan di SD. Mungkin teori perkembangan otak peserta didik sudah berubah, yang dulu salah, yang benar ya yang sekarang ini. Atau mungkin anak-anaknya lebih pintar-pintar anak jaman . Karena gizi yang lebih baik, imunisasi macam-macam atau apalah. Faktor ini juga erat kaitannya dengan “keberanian” para guru TK yang mengajarkan membaca, menulis dan berhitung. Padahal menurut aturan calistung tidak boleh diajarkan di TK (hayoo ibu-ibu.. anda juga mengajarkan calistung saat anak anda baru berusia 4 atau 5 tahun kan?). Alasannya klise: mengikuti perkembangan karena anak-anak lain juga diajari calistung sejak dini. Iya kalau anak anda kuat atau anda cerdik memanfaatkan momen-momen yang pas. Kalau tidak? Baru SD kelas 3 saja anak akan jenuh. Meski tidak diungkapkan dia pasti merasa “ sejak lahir kok selalu disuruh mikir”. 

Sudah cukup banyak faktor penyebabnya ya? Sekarang lanjut ke..


Apa yang menyebabkan anak malas belajar kalau di rumah


Jalan Keluar 

Sekali lagi saya menyatakan bahwa saya bukan ahli anak. Saya sekedar menulis untuk berbagi ( tentu saja saya tidak ngawur. Ada banyak literatur dan pengalaman di balik tulisan ini. Iya benerr, masak nggak percaya sih).

Jalan keluarnya lebih sulit lagi karena harus disesuaikan dengan banyak hal. Tapi bukan berarti tak ada jalan keluar loh. Silahkan teruskan membacanya ya, lalu ambil yang mendekati masalah pada anak anda.

… Usahakan sejak kecil anak sudah akrab dengan buku.
   
Belanjakan uang hak anak anda pada buku. Jangan melulu makanan, pakaian dan mainan. Belilah buku yang bergambar, tentang apa saja yang penting gambarnya mendominasi. Bisa kamus bergambar, daftar jenis-jenis hewan, tumbuhan, alat transportasi, alam semesta dan syukur-syukur dongeng. Gambar adalah syarat mutlak karena tanpa gambar jangan harap anak anda tertarik ! Dongeng bergambar punya nilai tambah tersendiri karena masa pakainya lebih lama. Dengan bertambahnya umur anak anda, nanti buku itu bisa anda jadikan bahan untuk mendongeng. Sering mendengar dongeng terbukti meningkatkan kemampuan verbal dan retorika anak. Belum lagi nilai moral dari setiap dongeng yang akan membantu membuatkan pondasi bagi pembangunan karakter mulia. Terus apa hubungannya sama mengatasi malas belajar? Begini: Tidak usah secara sengaja anda memberikan buku itu pada anak anda (ini ceritanya adegan membeli buku pertama kali yang akan “dipancingkan” pada anak usia 2 tahunan ke atas). Biarkan saja buku itu tergeletak di lantai, jangan lupa bungkusnya sudah dibuka biar nanti anak gampang melihat konten halamannya. Apa yang terjadi selanjutnya? Tidak lama anak akan mendekati buku itu, memegang, bahkan mungkin merobeknya. Berati “pancingan” anda sukses. Anda bisa mendekatinya, menunjukkan anda juga tertarik tapi AwaSS jangan terlalu intervensi dulu. Tugas utama anda mengelem, melakban dan memperbaiki buku itu supaya utuh lagi. Tak perlu ganti buku baru dengan judul sama. Anak lebih senang dengan buku lamanya. Dua, tiga atau empat hari anak akan mulai bertanya tentang gambar-gambar di situ. Tugas anda menjawab. Enam bulan sampai setahun ke depan anak akan mulai mencoret-coret buku. Biarkan saja. Tugas anda menyediakan buku baru secara berkala.

… Jangan terlalu memaksa
   
Ini bagi anak yang sudah terlanjur punya kebiasaan malas belajar,kisaran usia 7 ke atas dengan konteks belajar di rumah. Jika selama ini anda (biasanya seorang ibu) tak henti-hentinya mengingatkan anak untuk belajar dan sudah berusaha selalu membantunya tapi reaksi anak gitu-gitu aja, maka yang perlu anda lakukan adalah merubah kebiasaan anda itu. Mohon anda agak santai sedikit dan tak perlu baper melihat respon anak. Kalau perlu beri jeda seminggu tanpa menyuruhnya belajar (asal bukan sedang musim penilaian lho ya). Saat memulai menyuruh belajar lagi, anda harus  tampil beda dibanding sebelumnya. Kali ini lebih lembut, lebih santai dan tidak terkesan (maaf) terlalu cerewet. Anda juga harus jeli melihat ekpresi anak selama belajar. Kalau sudah kelihatan tidak bersemangat, mengantuk atau tidak fokus ya sudah ijinkan saja kalau dia ingin mengakhiri. Kalau PRnya belum selesai? Anda tahulah solusinya..he3x. Sebenarnya kalau anak sudah pengen udahan mau dipaksa seperti apapun juga percuma. Tidak akan ada yang nyantol di otaknya. Dengan cara ini diharapkan anak tidak merasa tertekan dan sedih ketika disuruh belajar… “tapi sebentar aja belajarnya ya Ma”. “Iya Dek enggak apa-apa, yang penting belajar”. Anda tak perlu kuatir dengan permintaannya itu dan jangan memperburuk keadaan dengan “berdebat” sebelum anak mulai belajar. Nanti kalau dia sudah terbawa suasana /otaknya sudah muter durasi belajarnya bisa memperpanjang dengan sendirinya.

Aduh udah panjang nih artikelnya. Cukup sekian dulu ya. O iya saat membantu anak belajar di rumah orang tua memang harus kreatif menerapkan beberapa model pembelajaran. Jangan monoton model itu-itu aja. Anak sekarang tidak bisa diatasi dengan cara model kuno. Kalau anda merasa tidak mampu tak ada salahnya minta bantuan guru les privat. Satu lagi, anak sulung sangat menentukan. Anak akan gampang di arahkan untuk semangat belajar karena sudah terbiasa melihat kakaknya.

Terima kasih atas kunjungannya. Komentar tak dilarang kok asal membangun.
Klik juga: anak suka keluyuran malam                                                         

0 Response to "Penyebab Anak Malas Belajar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel